Jika saya harus memulai usaha kopi Flores hari ini, hal pertama yang saya lakukan bukan mencari pemasok. Bukan mendesain logo. Bukan pula membuka media sosial.
Saya akan duduk.
Diam sebentar.
Dan bertanya pada diri sendiri: mengapa?
Bukan mengapa Flores. Bukan mengapa kopi.
Tapi mengapa saya ingin masuk ke dunia ini, dengan segala kerumitannya.
Karena kopi Flores tidak kekurangan orang yang ingin mencoba. Yang sering kurang adalah orang yang siap bertahan.
Saya Akan Mulai dari Batas, Bukan Potensi
Banyak usaha kopi dimulai dari potensi:
tanah bagus, nama besar, tren naik.
Saya justru akan mulai dari batas:
- berapa waktu yang benar-benar saya punya
- berapa uang yang siap hilang tanpa membuat hidup runtuh
- sejauh mana saya mau terlibat, bukan sekadar memiliki
Kopi adalah usaha yang pelan menggerogoti waktu dan energi. Jika batas ini tidak jelas sejak awal, semua keputusan berikutnya akan terasa berat.
Bukan karena kopi kejam.
Tapi karena ekspektasi kita terlalu longgar.
Saya Akan Memilih Satu Titik Kecil, Bukan Seluruh Flores
Jika saya harus memilih, saya tidak akan berkata “kopi Flores”. Saya akan memilih satu wilayah kecil bahkan jika itu berarti pilihan pasar menjadi sempit.
Bukan karena wilayah lain tidak bagus.
Tapi karena memahami satu tempat dengan sungguh-sungguh lebih realistis daripada menjelaskan seluruh pulau dengan setengah hati.
Satu desa.
Satu pola panen.
Satu karakter rasa yang bisa dipahami dengan konsisten.
Saya ingin mengenal kopi itu seperti mengenal seseorang, pelan, berulang, dan kadang membosankan. Karena dari kebosanan itulah pemahaman tumbuh.
Saya Tidak Akan Mengejar “Kopi Terbaik”
Ini mungkin terdengar aneh,
tapi saya tidak akan mengejar klaim “kopi terbaik”.
Saya akan mencari kopi yang:
- stabil
- bisa diulang
- dan jujur pada kondisinya
Kopi terbaik sering kali tidak bisa dipertahankan. Ia hadir sebagai puncak, lalu menghilang. Usaha tidak dibangun dari puncak, tapi dari lereng yang bisa diinjak terus-menerus. Jika suatu hari kopi itu istimewa, biarlah orang lain yang mengatakan. Saya tidak perlu mengatakannya lebih dulu.
Saya Akan Belajar Diam Lebih Lama dari Berbicara
Di awal, godaan terbesar adalah ingin menjelaskan segalanya. Tentang proses. Tentang petani. Tentang filosofi.
Saya justru akan menahan diri.
Membiarkan produk berbicara lebih dulu.
Bukan karena cerita tidak penting, tapi karena cerita yang datang terlalu cepat sering menutup ruang belajar. Saya ingin tahu di mana kopi ini gagal, di mana ia lemah, dan siapa yang benar-benar kembali membeli.
Diam bukan berarti pasif.
Diam adalah cara mendengar.
Saya Akan Menentukan Posisi Sebelum Menentukan Harga
Banyak usaha menentukan harga berdasarkan pasar,
lalu mencari cerita yang cocok.
Saya akan melakukan sebaliknya.
Saya akan bertanya:
- kopi ini ingin diminum kapan?
- oleh siapa?
- dalam suasana seperti apa?
Dari situ, harga akan muncul sebagai konsekuensi, bukan target. Harga yang lahir dari posisi biasanya lebih stabil. Harga yang lahir dari ambisi sering goyah.
Saya Akan Menghitung Kelelahan sebagai Biaya Nyata
Di banyak rencana usaha, kelelahan tidak pernah masuk tabel. Padahal ia sering menjadi biaya terbesar.
Saya akan bertanya:
- apakah ritme ini bisa saya jalani dua tahun?
- bukan dua bulan
- bukan saat masih bersemangat
Jika jawabannya ragu, saya akan memperkecil skala. Lebih baik tumbuh lambat daripada berhenti karena habis.
Kopi tidak menuntut heroisme.
Ia menuntut kehadiran yang konsisten.
Saya Tidak Akan Ingin Terlihat Besar Terlalu Cepat
Jika ada satu godaan yang ingin saya hindari, itu adalah terlihat besar sebelum waktunya.
Banyak usaha kopi Flores kelelahan karena:
- pesanan terlalu cepat
- jaringan terlalu luas
- ekspektasi terlalu tinggi
Saya akan memilih terlihat kecil tapi utuh.
Lebih mudah memperbesar yang utuh daripada merapikan yang terlanjur retak.
Saya Akan Berdamai dengan Fakta: Ini Mungkin Tidak Berhasil
Ini bagian tersulit, tapi juga paling jujur. Jika saya memulai usaha kopi Flores hari ini, saya akan menerima kemungkinan bahwa usaha ini mungkin tidak berhasil dan itu tidak selalu berarti saya gagal.
Kopi adalah pertemuan antara alam, manusia, dan pasar. Tidak semua pertemuan berakhir panjang. Menerima kemungkinan berhenti sejak awal justru membuat setiap langkah lebih sadar. Tidak panik. Tidak memaksa.
Saya Akan Menjaga Satu Hal: Martabat
Jika semua rencana berubah, pasar mengecewakan, atau hasil tidak sesuai harapan, saya ingin menjaga satu hal tetap utuh: martabat.
Martabat dalam cara berbicara tentang petani.
Martabat dalam cara menjelaskan produk.
Martabat dalam cara berhenti jika memang harus berhenti.
Karena dalam dunia kopi, reputasi sering bertahan lebih lama daripada usaha itu sendiri.
Penutup
Jika saya harus memulai usaha kopi Flores hari ini, saya tidak akan memulainya dengan keyakinan besar. Saya akan memulainya dengan kerendahan hati.
Dengan menerima bahwa kopi tidak hadir untuk ditaklukkan, tapi untuk dipelajari. Bahwa tidak semua potensi harus diwujudkan. Dan bahwa bertahan sering kali lebih bermakna daripada tumbuh cepat.
Kopi Flores tidak membutuhkan lebih banyak orang yang ingin “berhasil”. Ia membutuhkan lebih banyak orang yang tahu mengapa mereka datang, dan kapan harus berhenti. Dan mungkin, justru dari sikap itulah usaha yang paling tenang, dan paling tahan lama, bisa tumbuh, tanpa banyak suara.

Comments
Post a Comment
Mohon berkomentar sesuai topik!