Bajawa dan Manggarai: Kesalahan Umum Menyamakan Rasa Kopi Flores

Visual gelas kopi dengan teks "Bajawa vs Manggarai"
Flores sering disebut seolah ia satu rasa.

  • Satu aroma.
  • Satu karakter.
Padahal, siapa pun yang pernah benar-benar menyentuh kopi dari pulau ini tahu: 

Flores bukan satu suara. 
  • Ia paduan nada, 
  • kadang selaras, 
  • kadang kontras, 

tapi tidak pernah identik.

Kesalahan paling umum dalam membicarakan kopi Flores adalah menyamakan Bajawa dan Manggarai, dua wilayah yang sama-sama melahirkan kopi Arabika, tapi dengan karakter yang tumbuh dari tanah, iklim, dan kebiasaan yang berbeda.

Dan ketika perbedaan itu diabaikan, 
yang hilang bukan hanya rasa.

Yang hilang adalah pemahaman.

Bajawa dan Manggarai: Sama Pulau, Beda Napas

Secara geografis, 
Bajawa dan Manggarai berada di satu pulau.

Namun secara agrikultur, 
keduanya tidak pernah benar-benar sama.

Bajawa dikenal dengan kebun-kebun kopi yang relatif terjaga di dataran tinggi, dengan struktur tanah vulkanik yang lebih stabil dan tradisi budidaya yang cenderung terorganisir. Banyak kebun berada di ketinggian yang konsisten, memberi waktu bagi buah kopi untuk matang perlahan.

Manggarai, di sisi lain, adalah lanskap yang lebih beragam. Ketinggian kebun bervariasi lebih ekstrem, struktur lahan lebih tersebar, dan praktik pascapanen sering kali sangat tergantung pada kebiasaan lokal masing-masing kampung. Perbedaan ini mungkin terlihat kecil di atas peta, tapi sangat terasa di dalam cangkir.

Karakter Rasa: Bukan Mana Lebih Baik, Tapi Mana Berbeda

Kopi Bajawa sering dikenal dengan profil rasa yang lebih bulat dan tenang. Nutty, cokelat, kadang karamel, dengan keasaman yang halus dan body yang terasa penuh tapi tidak berat. Ia seperti percakapan panjang yang tidak memaksa, nyaman, stabil, dan mudah dipahami.

Manggarai sering kali menghadirkan rasa yang lebih liar dan berlapis. Keasaman bisa lebih menonjol, aroma lebih kompleks, kadang ada sentuhan fruity yang tipis, kadang earthy yang lebih terasa. Tidak selalu rapi, tapi justru di situlah karakternya.

Masalah muncul ketika keduanya dipaksa masuk ke satu definisi rasa bernama “kopi Flores”. Padahal, menyamakan keduanya sama seperti menyamakan suara hujan dan suara sungai, keduanya air, tapi tidak pernah berbunyi sama.

Proses Pascapanen: Faktor yang Sering Diremehkan

Banyak diskusi kopi berhenti di varietas dan ketinggian.

Padahal, di Flores, terutama di Manggarai, proses pascapanen sering menjadi pembeda paling besar. Di Bajawa, proses cenderung lebih konsisten. Metode full wash atau semi wash dilakukan dengan pola yang relatif seragam. Pengeringan lebih terkontrol, dan standar kualitas mulai dijaga karena tuntutan pasar yang sudah terbentuk.

Di Manggarai, proses bisa sangat bervariasi. Ada yang dilakukan dengan penuh perhatian, ada pula yang sekadar mengikuti kebiasaan lama tanpa banyak penyesuaian. Ini bukan soal salah atau benar, tapi soal tujuan pasar yang berbeda. Ketika kopi Manggarai yang diproses seadanya dijual dengan narasi premium ala Bajawa, di situlah ekspektasi mulai runtuh.

Kesalahan Branding: Menjual Kesamaan yang Tidak Ada

Banyak produk kopi memilih jalur aman: 
menjual “Flores” sebagai satu identitas rasa.

Strategi ini memang praktis, tapi ia mengorbankan detail.
Dan dalam dunia kopi, detail adalah segalanya.

Ketika konsumen membeli kopi Flores dengan harapan rasa tertentu, lalu mendapat pengalaman yang sangat berbeda di pembelian berikutnya, kebingungan muncul. Mereka tidak tahu apakah perbedaan itu cacat, variasi, atau sekadar kebetulan.

Padahal jawabannya sederhana:
mereka sedang minum kopi dari wilayah yang berbeda, dengan karakter yang memang tidak sama sejak awal.

Menyamakan Rasa = Menyamakan Cerita

Kopi bukan hanya hasil pertanian. 
Ia juga hasil kebiasaan, ritme hidup, dan cara orang memperlakukan waktu.

Bajawa tumbuh dari lanskap yang relatif lebih tenang dan terstruktur.
Manggarai tumbuh dari ruang yang lebih dinamis dan beragam.

Ketika rasanya disamakan, ceritanya pun dipaksa lurus.
Dan cerita yang dipaksa jarang bertahan lama.

Dampaknya ke Pasar: Kepercayaan yang Pelan-Pelan Terkikis

Pasar kopi, terutama yang sudah cukup dewasa, sangat sensitif terhadap inkonsistensi. Mereka mungkin tidak selalu bisa menjelaskan secara teknis, tapi mereka bisa merasakan perbedaan.

Jika Bajawa dan Manggarai terus dijual sebagai satu rasa tanpa penjelasan, kepercayaan akan terkikis secara perlahan. Bukan karena kopinya buruk, tapi karena narasinya tidak jujur. Dan dalam jangka panjang, pasar lebih mudah memaafkan rasa yang sederhana daripada cerita yang tidak konsisten.

Menghargai Perbedaan Justru Memperkuat Flores

Ironisnya, 
dengan membedakan Bajawa dan Manggarai, 
nama Flores justru menjadi lebih kuat.

Flores tidak lagi dipersepsikan sebagai satu rasa datar, tapi sebagai wilayah dengan spektrum karakter. Ini membuka ruang bagi edukasi, eksplorasi, dan apresiasi yang lebih dalam. Alih-alih melemahkan brand, perbedaan yang dijelaskan dengan baik justru menambah lapisan nilai.

Tidak Semua Perbedaan Harus Dijual Mahal

Penting juga disadari:
membedakan tidak selalu berarti menaikkan harga.

Ada kopi Manggarai yang sangat baik untuk pasar harian. Ada kopi Bajawa yang pantas disimpan untuk momen tertentu. Memberi ruang bagi masing-masing untuk berada di tempat yang tepat adalah bentuk penghargaan, bukan diskriminasi.

Penutup

Bajawa dan Manggarai tidak pernah meminta untuk disamakan. Merekalah yang berbicara lewat rasa, aroma, dan pengalaman minum yang berbeda. Kesalahan kita selama ini bukan pada kopinya, tapi pada cara kita menyederhanakan cerita.

Dengan menyamakan rasa, kita kehilangan kesempatan untuk memahami Flores secara utuh. Mungkin sudah waktunya berhenti mencari satu definisi tentang kopi Flores. Dan mulai mendengarkan setiap wilayahnya berbicara dengan suaranya sendiri.

Karena kopi yang jujur tidak menuntut untuk diseragamkan.
Ia hanya meminta untuk dipahami.

Comments