Setiap kali secangkir kopi Flores disajikan dengan harga tinggi, selalu ada cerita yang menyertainya. Tentang petani di dataran tinggi, tentang kabut pagi, tentang tangan-tangan yang memetik dengan sabar.
Cerita itu indah.
Dan sering kali memang nyata.
Namun di balik keindahan itu,
ada pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur:
di mana sebenarnya etika kopi dimulai?
Apakah ia lahir di kebun,
di kemasan,
atau di angka yang tertera pada label harga?
Petani Sering Hadir di Cerita, Absen di Keputusan
Dalam narasi kopi premium, petani hampir selalu menjadi tokoh utama. Wajah mereka muncul di kemasan, nama mereka disebut di media sosial, kisah hidup mereka dirangkum dalam beberapa paragraf penuh empati.
Namun ironisnya,
dalam banyak kasus,
petani justru tidak dilibatkan secara utuh dalam keputusan paling penting: penetapan nilai.
Harga jual kopi bisa melonjak berkali-kali lipat di hilir,
di roastery,
di kafe,
di rak ritel,
sementara di hulu,
perubahan yang dirasakan petani sering kali tidak sebanding.
Ini bukan tuduhan, melainkan kenyataan struktural yang kompleks.
Tapi kompleksitas tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti bertanya.
Cerita sebagai Nilai Tambah: Sah, Tapi Tidak Cukup
Tidak ada yang salah dengan menjual cerita.
Dalam dunia kopi, cerita adalah jembatan antara kebun dan cangkir. Ia membantu konsumen memahami konteks, bukan sekadar rasa. Masalah muncul ketika cerita menjadi satu-satunya pembenaran harga.
Ketika kualitas kopi biasa saja, proses standar, dan keterlacakan minim, namun harga tetap tinggi karena narasinya menyentuh, di situlah etika mulai kabur. Cerita seharusnya memperkuat nilai yang memang ada. Bukan menutupi kekosongan nilai itu sendiri.
Harga Tinggi Tidak Otomatis Berarti Adil
Ada asumsi yang sering diterima tanpa banyak dipikir:
kopi mahal berarti kopi yang adil bagi petani.
Sayangnya, hubungan antara harga jual dan kesejahteraan petani tidak selalu linear. Banyak faktor memengaruhi pembagian nilai, mulai dari struktur rantai pasok, biaya operasional, hingga posisi tawar masing-masing pihak.
Di Flores, tantangan ini semakin terasa karena sebagian besar petani masih berada pada skala kecil. Mereka sering menjual dalam kondisi membutuhkan, bukan menunggu harga ideal. Dalam situasi seperti ini, etika tidak bisa hanya diukur dari harga akhir, tapi dari proses dan relasi di sepanjang jalan.
Siapa yang Diuntungkan oleh Narasi Premium?
Pertanyaan reflektif yang perlu diajukan adalah:
siapa yang paling diuntungkan oleh narasi kopi premium?
Jika jawabannya hanya berhenti pada merek dan penjual, maka ada ketimpangan yang perlu diakui. Etika kopi tidak menuntut kesempurnaan, tapi ia menuntut kesadaran akan posisi masing-masing.
Menjual kopi Flores dengan harga tinggi sambil terus-menerus mengulang kisah petani, tanpa memastikan petani punya ruang untuk tumbuh, adalah praktik yang secara moral rapuh, meski secara legal sah.
Etika Bukan Tentang Angka, Tapi Relasi
Etika dalam kopi jarang bisa dirumuskan dalam angka pasti.
Ia tidak selalu bisa diukur dengan persentase atau margin.
Etika lebih sering terlihat dalam hal-hal kecil:
- apakah petani tahu ke mana kopinya dijual
- apakah mereka memahami mengapa kualitas tertentu dihargai lebih
- apakah ada dialog, bukan sekadar transaksi
Relasi semacam ini memang tidak instan.
Tapi kopi yang dibangun di atas relasi cenderung lebih tahan lama daripada kopi yang dibangun di atas euforia pasar.
Konsumen Juga Punya Peran Etis
Etika kopi tidak berhenti di produsen.
Konsumen juga bagian dari ekosistem.
Membeli kopi mahal sambil menuntut harga serendah mungkin, atau membeli cerita tanpa peduli kualitas, adalah dua sisi dari masalah yang sama. Konsumen yang dewasa tidak hanya bertanya “berapa harganya”, tapi juga “mengapa harganya demikian”. Di titik ini, edukasi menjadi penting, bukan untuk membuat konsumen merasa bersalah, tapi untuk mengajak mereka ikut berpikir.
Flores dan Tantangan Menjaga Martabat
Flores memiliki posisi unik.
Namanya sudah cukup kuat untuk dijual.
Inilah berkah sekaligus tantangan.
Ketika nama daerah sudah punya nilai, godaan untuk menggunakannya secara maksimal, bahkan berlebihan, menjadi besar. Tapi setiap kali nama Flores dipakai tanpa keseimbangan antara cerita, kualitas, dan harga, ada sedikit martabat yang dipertaruhkan. Menjaga martabat kopi Flores bukan berarti menolak keuntungan. Itu berarti memastikan keuntungan tidak berdiri sendiri.
Tidak Semua Praktik Harus Sempurna, Tapi Harus Jujur
Etika kopi bukan tuntutan untuk menjadi ideal.
Ia tuntutan untuk jujur terhadap keterbatasan.
Tidak semua penjual bisa membangun hubungan langsung dengan petani. Tidak semua bisa membayar harga terbaik setiap waktu. Dan itu bisa dimaklumi, selama diakui apa adanya, bukan ditutup dengan cerita berlapis.
Kejujuran semacam ini jarang terdengar heroik.
Tapi justru di sanalah etika mulai berakar.
Penutup
Di antara petani, cerita, dan harga, etika kopi tidak muncul sebagai slogan. Ia hadir sebagai sikap, tenang, sadar posisi, dan tidak berlebihan dalam mengklaim. Kopi Flores tidak membutuhkan kisah yang dilebih-lebihkan untuk bernilai.
Ia cukup diperlakukan dengan adil,
diceritakan dengan jujur,
dan dihargai dengan proporsional.
Mungkin etika kopi tidak pernah punya garis awal yang jelas.
Tapi ia selalu bisa dikenali dari satu hal sederhana:
apakah semua pihak di sepanjang rantai merasa dilihat, atau hanya dijadikan bagian dari cerita.
Dan di sanalah, tanpa banyak suara, etika kopi sebenarnya dimulai.

Comments
Post a Comment
Mohon berkomentar sesuai topik!